Beranda // Keislaman // Inspirasi Sedekah Para Sahabat Nabi: Keteladanan dalam Berbagi

Inspirasi Sedekah Para Sahabat Nabi: Keteladanan dalam Berbagi

Daftar Isi

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan (ikhaa`), kasih sayang (mawaddah), dan solidaritas (takaful). Ajaran luhur ini meniscayakan bahwa yang kuat membantu yang lemah, yang kaya menanggung yang fakir, dan yang berkecukupan berbagi dengan yang kekurangan. Prinsip ini merupakan salah satu instrumen distribusi kekayaan dalam Islam. Allah memberikan karunia-Nya kepada setiap hamba dengan cara yang berbeda, di antaranya dengan menjadikan seseorang sebagai pintu rezeki bagi saudaranya.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Siapa yang memiliki kelebihan bekal, hendaklah memberikannya kepada orang yang tidak memiliki perbekalan.” (HR. Muslim).

Para sahabat Nabi berlomba-lomba menjadi perantara rezeki bagi sesama. Abu Sa’id bahkan mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Rasulullah menyebutkan golongan yang berhak mendapatkan harta (dari kami), sehingga kami merasa tidak ada seorang pun dari kami yang berhak memiliki kelebihan harta.” (HR. Muslim).

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sahabat yang luar biasa dalam bersedekah. Ia mengajarkan bahwa sedekah merupakan karakter utama seorang pengusaha muslim. Salah satu kisahnya yang terkenal adalah ketika ia menjual tanahnya kepada Utsman bin Affan seharga 40.000 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) dan menyedekahkan seluruh hasil penjualannya kepada Bani Zuhrah, fakir miskin, serta para istri Rasulullah ﷺ.

Selain itu, Abdurrahman bin Auf juga mewasiatkan hartanya dalam jumlah besar:

  • 400 dinar untuk setiap pejuang Badar
  • 1.000 ekor kuda untuk jihad
  • Kebun senilai 100.000 dinar untuk ummahatul mukminin

Abu Thalhah dan Infak Harta yang Dicintai

Sahabat Abu Thalhah memahami makna sedekah sebagai bagian dari kecintaan kepada Allah. Ketika turun ayat: “Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.” (Ali Imran: 92), ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata:

“Ya Rasulullah, hartaku yang paling aku sukai adalah kebun Bairuha. Kebun itu aku sedekahkan untuk Allah. Aku berharap mendapat pahala dan menjadi simpananku di sisi Allah. Silakan manfaatkan untuk kemaslahatan umat.”

Rasulullah ﷺ merespons: “Luar biasa, harta ini memperoleh keuntungan besar… Aku menyarankan agar manfaatnya diberikan kepada kerabat dekatmu.”

Sedekah Utsman bin Affan: Perdagangan dengan Allah

Utsman bin Affan -radhiyallahu ‘anhu- memahami bahwa berbisnis dengan Allah jauh lebih menguntungkan dibanding berdagang di pasar. Saat terjadi kekeringan pada masa khalifah Abu Bakar, masyarakat menghadapi kesulitan hidup karena sumber daya yang terbatas. Namun, menjelang sore, terdengar kabar bahwa kafilah dagang Utsman tiba di Madinah membawa 1.000 ekor unta penuh dengan kebutuhan pokok.

Para pedagang berlomba-lomba menawar dagangan Utsman, bahkan menawarkan keuntungan lima kali lipat. Namun, Utsman berkata:

“Ada yang telah menjanjikan keuntungan lebih besar dari tawaran kalian.”

Para pedagang keheranan dan bertanya siapa yang berani memberi tawaran lebih tinggi. Utsman menjawab:

“Sesungguhnya Allah membeli dariku dengan harga 10 kali lipat. Aku bersaksi kepada Allah bahwa semua barang ini aku sedekahkan kepada fakir miskin Madinah.”

Semangat Sedekah Meski dalam Keterbatasan

Para sahabat Nabi tidak hanya bersedekah dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki semangat berbagi meski dalam keterbatasan. Uqbah bin ‘Amr al-Anshari mengatakan:

“Ketika turun ayat tentang sedekah, kami sangat ingin bersedekah, tetapi tidak memiliki uang. Kami pun bekerja sebagai kuli panggul demi mendapatkan sesuatu untuk disedekahkan.”

Namun, kaum munafik mencemooh mereka. Terhadap celaan tersebut, Allah menurunkan firman-Nya:

“Orang-orang yang mencela mukmin yang bersedekah secara sukarela dan mencela mukmin yang bersedekah sekadar dari harta yang mereka hasilkan, Allah akan membalas penghinaan itu, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (At-Taubah: 79)

Sedekah Unik Sahabat Nabi

Mirtsad bin Abdillah, seorang sahabat Nabi, memiliki kebiasaan unik dalam bersedekah. Setiap kali ia pergi ke masjid, ia selalu membawa sesuatu untuk disedekahkan, meskipun hanya bawang merah. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab:

“Demi Allah, di rumahku tidak ada yang bisa aku sedekahkan selain ini. Aku mendengar salah seorang sahabat Nabi berkata: ‘Naungan seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.’” (HR. Ahmad)

Pelajaran dari Para Sahabat

Para sahabat Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal sedekah. Mereka memahami bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi sarana meraih keberkahan dan ridha Allah. Kisah-kisah mereka mengajarkan bahwa:

  1. Sedekah adalah investasi akhirat – Apa yang disedekahkan tidak akan berkurang, justru bertambah keberkahannya.
  2. Sedekah tidak harus dalam jumlah besar – Allah menilai keikhlasan, bukan jumlahnya.
  3. Bersedekah membuka pintu rezeki – Semakin banyak memberi, semakin Allah lapangkan rezekinya.

Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk lebih gemar bersedekah dan meneladani para sahabat Nabi dalam berbagi.

Wallahu a’lam bishshawab.

Baca Artikel Kami Lainnya: